Postingan

Percakapan Seputar Amar Makruf dan Nahi Mungkar

Ayahku berkata: Sekarang kau sudah menguasai dan belajar banyak tentang hukum syariat Islam yang kau butuhkan. Sekarang, kau tahu hukum-hukum Allah: jelas bagimu, apa yang Dia wajibkan dan kau juga waspada terhadap apa yang Dia haramkan. Sekarang kau melihat apa yang sebelumnya tak pernah kau lihat. Sekarang, bukan nanti... kau harus mengingat masa lalu yang penuh kekerasan, saat kau mengangkat kepala ke.atas dengan hati menangis sedih, pedih, dan kebingungan. Saat itu, kau berkata, “Tuhanku, aku tahu Kau telah menugaskanku, tapi aku tak tahu, apa tugas-tugas dari-Mu. Tuhan, bagaimana caranya aku tahu apa yang Kau halalkan sehingga aku bisa melakukannya dan bagaimana caranya aku tahu apa yang Kau haramkan sehingga bisa kuhindari.” “Sekarang, bukan nanti.. sudah saatnya kau sadari bahwa banyak.anak-anak seusiamu dan sekelas denganmu atau bahkan lebih besar darimu, yang masih hidup dalam kesedihanmu dulu. Mereka masih terbebani dan menderita. Pelupuk mata mereka terbakar oleh air mata ya...

Percakapan Seputar Wakaf

Ketika ayahku duduk dalam pertemuan kali ini, aku segera membuka pembicaraan dan kukatakan padanya, “Sewaktu berziarah ke pemakaman para imam di Najaf al-Asyraf, Karbala Muqaddasah, dan sebagainya, aku melihat tulisan ‘wakaf pada tulisan-tulisan al-Quran yang ada di sana; juga tertulis di lampu-lampu, pendingin, pemanas, dan barang-barang lain. Kadang aku juga melihat tulisan ‘wakaf di sebagian tempat, gedung, dan bangunan serta pada kipas dan lampulampu masjid atau husainiah; kadang juga bisa dilihat pada pendingin air di pinggir-pinggir jalan raya dan sebagainya.” Ya, manusia berhak mewakafkan hal-hal yang kau sebutkan atau semacamnya, dan sudah barang tentu harus sesuai dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Oleh karena itu, ketika pewakafan sudah memenuhi syarat syariat Islam, maka barang wakaf itu telah keluar dari kepemilikan seseorang yang mewakafkannya, dan berubah menjadi harta yang tak bisa dihibahkan, diwariskan, dan dijual kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu—sebagai...

Percakapan Seputar Warisan

Ayah membuka percakapan dengan ucapannya: Dalam warisan, keluarga dan famili bisa dibagi pada tiga tingkat: Tingkat pertama adalah: ayah dan ibu, anak, cucu, dan seterusnya... Hanya saja, bila terdapat anak kandung (sulbi), warisan tidak sampai pada cucu, baik dari anak lelaki maupun dari anak perempuan. Apa yang dimaksud hafid dan sibth? Hafid adalah cucu dari anak lelaki, adapun sibth adalah cucu dari anak perempuan. Tingkat kedua keluarga adalah saudara lelaki dan saudara perempuan. Jika tidak ada, maka anak-anak mereka yang menggantikan posisinya: juga kakek serta nenek sampai ke atas, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Bila saudara mempunyai anak sekaligus : cucu, maka warisan hanya sampai pada anak, tidak sampai pada cucu. Tolong beri contoh berkenaan dengan apa yang ayah katakan tadi. Kalau anak saudara ayah ada, maka cucunya tidak berhak menerima warisan dari ayah. Tingkat ketiga keluarga adalah paman dari pihak ayah dan ibu, serta bibi dari pihak ayah dan ibu. Jika ta...

Percakapan Seputar Wasiat

Ayah membuka percakapan seputar wasiat dengan membacakan hadis Imam Baqir, “Wasiat adalah haq, dan sungguh Rasulullah saw telah berwasiat, maka seyogianya orang muslim juga berwasiat.” Tapi yah, sebagian orang tidak berwasiat karena beranggapan bahwa wasiat berarti sudah mau mati. Makanya, menurut mereka, wasiat itu mengundang kesialan. Wasiat adalah mustahab. Bahkan sebaliknya dari yang kau katakan, wasiat akan memanjangkan umur seseorang, dan tidak berwasiat hukumnya makruh serta tidak baik. Di samping itu, kematian adalah haq, bukankah begitu? Ya, kematian adalah haq. Allah Swt berfirman dalam al-Quran: Semua orang akan merasakan kematian Ayat ini sering aku dengar dibaca orang, dan aku juga membacanya ketika melewati kuburan-kuburan di tengah jalan. Ya, benar, kematian adalah hag—aku mengatakannya dengan rasa takut dan khusuk. Kalau kematian memang haq, kenapa harus lari dari hakikat yang pasti terjadi? Apa bukan sebaiknya kita bersikap realistis dan praktis saja sehingga kita juga...

Percakapan Seputar Nazar, Janji, dan Sumpah

Di tengah perjalanan pulang ke rumah, aku mendengar percakapan antara ibu dan anaknya. Ibu:Ibu bernazar untuk Allah Swt jika adikmu disembuhkan dari penyakitnya, akan menyembelih domba, dan alhamdulillah, dia sekarang sudah sembuh. Karena itu, ibu harus menepati nazar itu. Anak: Benar kan apa yang selalu kukatakan pada ibu; ibu selalu mendahulukan adik daripada aku. Ibu: kenapa begitu... bukankah penyakit adikmu sangat berbahaya... bukankah adikmu sampai hilang kesadarannya sehingga tak bisa mendengar dan melihat... bukankah dokter mengatakan, andai bukan karena inayah dan pertolongan Allah, niscaya adikmu tak akan sembuh... bukankah... bukankah... apa kau lupa kondisinya? Tidakkah seharusnya ibu bersyukur pada Allah karena kesembuhan adikmu? Maka dari itu, ibu menyembelih domba demi Allah Swt dan sebagai pujian pada-Nya atas nikmat yang telah Dia berikan! Apakah kalau ibu bernazar untuk Allah dengan harapan dan doa agar adikmu lekas disembuhkan dari penyakit membahayakan yang menimpan...

Percakapan Seputar Perceraian

Pertama kali aku mengira hanya aku yang membenci perceraian. Tapi, saat mendengar pembicaraan ayahku, ternyata bukan aku saja yang membenci perceraian. Ayah juga sepertiku, membenci perceraian. Masyarakat juga membencinya. Bahkan, lebih dari itu, ayah mengatakan bahwa Allah Swt membenci perceraian. Ayah juga menambahkan kenyataan ini dengan menukil teks-teks hadis tentang itu. Ayah membawakan sebuah riwayat dari Imam Ja'far Shadiq yang berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah daripada perceraian.” Riwayat berikutnya dari Imam Shadiq yang berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah dari rumah yang dalam Islam hancur karena perpecahan, yakni perceraian.” Kemudian, ayah menukil hadis yang diriwayatkan Hasan bin Fadhl dari Imam Shadiq yang berkata, “Menikahlah dan janganlah kalian bercerai, karena sesungguhnya perceraian menggetarkan Arsy.” | Kebencian terhadap perceraian itu berlanjut sampai dengan kebencian terhadap lelaki yang sering menceraikan listrinya]. Imam...