Penjelasan tentang Makna Islam dan Iman
Telah diketahui dengan pasti bahwa hanya dengan Islam dan Iman seorang hamba dapat meraih puncak keridaan Allah SWT. Seluruh perbuatannya bergantung pada nilai-nilai keduanya. Betapapun jelasnya hal ini, aku tetap merasa perlu menekankannya dalam buku ini, semata-mata demi menyadarkan sebagian orang yang fanatik, yang senantiasa ingin membangkitkan kembali semangat kesukuan dan kepartaian jahiliah.
Padahal, saudara-saudara kita dari kalangan Ahlus-Sunnah telah sepakat bahwa hakikat Islam dan Iman ialah pengucapan dua kalimat syahadat, pembenaran adanya Hari Kebangkitan, pelaksanaan shalat lima waktu menghadap kiblat, pelaksanaan ibadah haji, puasa di bulan Ramadhan, serta pengeluaran zakat dan seperlima (khumus) dari harta perolehan (ghanimah) yang diwajibkan.¹ Hal ini tercantum dengan jelas dalam enam kitab kumpulan hadis (ash-shihah as-sittah) maupun kitab-kitab hadis lainnya.
Dalam Shahih Al-Bukhari, dengan sanadnya, dicantumkan sabda Rasulullah saw.:
“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan shalat kita, dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagaimana Muslim lainnya.”
Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Barangsiapa menunaikan shalat kita, menghadap kiblat kita, serta memakan hewan sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku jaminan (dzimmah) Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kamu mengkhianati janji Allah dalam dzimmah-Nya.”²
Masih dalam Shahih Al-Bukhari, dengan sanad dari Thalhah bin Ubaidillah,³ diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Nejed datang kepada Rasulullah saw. Kepala orang itu penuh debu. Kami mendengar suaranya yang keras, namun tidak memahami apa yang ia bicarakan hingga ia mendekat kepada Rasulullah saw. Ia bertanya tentang beberapa kewajiban dalam Islam.
Rasulullah saw. menjawab:
“Shalat lima kali dalam sehari semalam.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah shalat yang wajib atasku selain yang lima itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan yang sunnah.”
Kemudian Rasulullah saw. melanjutkan:
“Dan wajib puasa di bulan Ramadhan.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah puasa yang wajib bagiku selain itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan yang sunnah.”
Rasulullah saw. lalu menyebutkan kewajiban zakat. Orang itu bertanya lagi:
“Adakah pengeluaran harta yang wajib bagiku selain zakat itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau suka mengerjakan yang sunnah.”
Kemudian laki-laki itu pergi seraya berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan menambah dari semua ini dan tidak pula menguranginya.”
Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda:
“Beruntunglah ia jika ia jujur dalam ucapannya.”
Dalam Shahih Al-Bukhari juga disebutkan sebuah hadis dengan sanad sampai kepada Nafi’, bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar seraya bertanya:
“Wahai Abu Abdurrahman, apakah yang mendorongmu untuk setiap tahun menunaikan ibadah haji atau umrah, sementara engkau meninggalkan jihad fi sabilillah? Padahal engkau mengetahui betapa kuatnya Allah menekankan keutamaannya?”
Ibnu Umar menjawab:
“Wahai anak saudaraku, agama Islam ditegakkan atas lima perkara: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, shalat lima kali sehari semalam, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.”
Dalam Shahih Al-Bukhari pula diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:
Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang duduk bersama orang banyak, ketika datang seorang laki-laki dan bertanya:
“Apakah Iman itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Iman ialah percaya kepada Allah, malaikat-Nya, dan Hari Kebangkitan.”
Orang itu bertanya lagi:
“Apakah Islam itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Islam adalah menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”
Setelah itu laki-laki tersebut pergi. Rasulullah saw. kemudian bersabda:
“Panggil kembali laki-laki itu!”
Namun mereka tidak melihat seorang pun. Lalu Nabi saw. bersabda:
“Itulah malaikat Jibril, datang untuk mengajari manusia tentang agama mereka.”
Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dengan sanad yang berbeda, sebagian dari Umar bin Khaththab, sebagian dari putranya (Abdullah bin Umar), dan sebagian lagi dari Abu Hurairah, dengan sedikit tambahan dan pengurangan.
Al-Bukhari juga meriwayatkan di beberapa tempat dalam kitab Shahih-nya, dengan sanad sampai kepada Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada delegasi Abdul Qais (ketika beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa):
“Tahukah kamu apa arti Iman kepada Allah Yang Maha Esa?”
Mereka menjawab:
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah saw. bersabda:
“Itulah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan memberikan seperlima (khumus) dari harta perolehan (maghnam).”⁴
Hadis-hadis yang mengandung makna seperti ini tidak dapat dihitung karena banyaknya. Siapa saja yang ingin mengetahuinya, silakan mengkaji dan mendalaminya dalam enam kitab hadis yang sahih dan kitab-kitab lainnya, terutama dalam pasal keimanan dalam Shahih Muslim. Dalam kitab tersebut terdapat banyak bab yang memberikan kepastian bahwa definisi “Islam” dan “Iman” sebagaimana dipahami oleh Ahlus-Sunnah tidak lain adalah seperti yang telah diuraikan di atas, sedangkan penjelasan yang akan diuraikan dalam dua pasal mendatang akan semakin memperjelasnya. Oleh karena itu, renungkanlah dengan baik.
Catatan Kaki
¹ Mungkin sebagian kaum Muslim membedakan antara “Islam” dan “Iman”, berdasarkan apa yang dapat dipahami dari ayat 14 Surah Al-Hujurat berikut ini:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah Islam.’”
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa “Islam” merupakan pernyataan masuk agama dan berserah diri kepada Nabi Muhammad saw., sedangkan “Iman” adalah keyakinan yang teguh di dalam hati sanubari kaum beriman yang diikrarkan dengan lisan. Dengan demikian, “Iman” lebih khusus daripada “Islam”. Adapun kami (kaum Syi‘ah) menambahkan satu hal lagi, yakni wilayah (pengakuan dua belas Imam sebagai pemimpin umat).
² Sudah tentu hadis ini dan hadis sebelumnya terikat dengan persyaratan puasa, zakat, dan haji.
³ Hadis ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dengan sanad yang sama.
⁴ Muslim juga meriwayatkan hadis ini di beberapa tempat dalam kitab Shahih-nya. Hal ini merupakan dalil bahwa kewajiban mengeluarkan seperlima (khumus) dari hasil perolehan termasuk salah satu rukun Islam, seperti halnya shalat dan zakat. Dengan demikian, hadis tersebut menjadi penjelas bagi hadis-hadis yang tidak mencantumkan kewajiban khumus. Hal ini tidak mengherankan, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah saling berkaitan.
Padahal, saudara-saudara kita dari kalangan Ahlus-Sunnah telah sepakat bahwa hakikat Islam dan Iman ialah pengucapan dua kalimat syahadat, pembenaran adanya Hari Kebangkitan, pelaksanaan shalat lima waktu menghadap kiblat, pelaksanaan ibadah haji, puasa di bulan Ramadhan, serta pengeluaran zakat dan seperlima (khumus) dari harta perolehan (ghanimah) yang diwajibkan.¹ Hal ini tercantum dengan jelas dalam enam kitab kumpulan hadis (ash-shihah as-sittah) maupun kitab-kitab hadis lainnya.
Dalam Shahih Al-Bukhari, dengan sanadnya, dicantumkan sabda Rasulullah saw.:
“Barangsiapa bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, menghadap kiblat kita, mengerjakan shalat kita, dan memakan hasil sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku hak dan kewajiban yang sama sebagaimana Muslim lainnya.”
Al-Bukhari juga meriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Barangsiapa menunaikan shalat kita, menghadap kiblat kita, serta memakan hewan sembelihan kita, maka ia adalah seorang Muslim. Baginya berlaku jaminan (dzimmah) Allah dan Rasul-Nya. Maka janganlah kamu mengkhianati janji Allah dalam dzimmah-Nya.”²
Masih dalam Shahih Al-Bukhari, dengan sanad dari Thalhah bin Ubaidillah,³ diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari Nejed datang kepada Rasulullah saw. Kepala orang itu penuh debu. Kami mendengar suaranya yang keras, namun tidak memahami apa yang ia bicarakan hingga ia mendekat kepada Rasulullah saw. Ia bertanya tentang beberapa kewajiban dalam Islam.
Rasulullah saw. menjawab:
“Shalat lima kali dalam sehari semalam.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah shalat yang wajib atasku selain yang lima itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan yang sunnah.”
Kemudian Rasulullah saw. melanjutkan:
“Dan wajib puasa di bulan Ramadhan.”
Orang itu bertanya lagi:
“Adakah puasa yang wajib bagiku selain itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau mau mengerjakan yang sunnah.”
Rasulullah saw. lalu menyebutkan kewajiban zakat. Orang itu bertanya lagi:
“Adakah pengeluaran harta yang wajib bagiku selain zakat itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Tidak, kecuali jika engkau suka mengerjakan yang sunnah.”
Kemudian laki-laki itu pergi seraya berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan menambah dari semua ini dan tidak pula menguranginya.”
Mendengar itu, Rasulullah saw. bersabda:
“Beruntunglah ia jika ia jujur dalam ucapannya.”
Dalam Shahih Al-Bukhari juga disebutkan sebuah hadis dengan sanad sampai kepada Nafi’, bahwa seorang laki-laki datang kepada Ibnu Umar seraya bertanya:
“Wahai Abu Abdurrahman, apakah yang mendorongmu untuk setiap tahun menunaikan ibadah haji atau umrah, sementara engkau meninggalkan jihad fi sabilillah? Padahal engkau mengetahui betapa kuatnya Allah menekankan keutamaannya?”
Ibnu Umar menjawab:
“Wahai anak saudaraku, agama Islam ditegakkan atas lima perkara: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, shalat lima kali sehari semalam, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji.”
Dalam Shahih Al-Bukhari pula diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.:
Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang duduk bersama orang banyak, ketika datang seorang laki-laki dan bertanya:
“Apakah Iman itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Iman ialah percaya kepada Allah, malaikat-Nya, dan Hari Kebangkitan.”
Orang itu bertanya lagi:
“Apakah Islam itu?”
Rasulullah saw. menjawab:
“Islam adalah menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan.”
Setelah itu laki-laki tersebut pergi. Rasulullah saw. kemudian bersabda:
“Panggil kembali laki-laki itu!”
Namun mereka tidak melihat seorang pun. Lalu Nabi saw. bersabda:
“Itulah malaikat Jibril, datang untuk mengajari manusia tentang agama mereka.”
Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya dengan sanad yang berbeda, sebagian dari Umar bin Khaththab, sebagian dari putranya (Abdullah bin Umar), dan sebagian lagi dari Abu Hurairah, dengan sedikit tambahan dan pengurangan.
Al-Bukhari juga meriwayatkan di beberapa tempat dalam kitab Shahih-nya, dengan sanad sampai kepada Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada delegasi Abdul Qais (ketika beliau memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa):
“Tahukah kamu apa arti Iman kepada Allah Yang Maha Esa?”
Mereka menjawab:
“Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Rasulullah saw. bersabda:
“Itulah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan memberikan seperlima (khumus) dari harta perolehan (maghnam).”⁴
Hadis-hadis yang mengandung makna seperti ini tidak dapat dihitung karena banyaknya. Siapa saja yang ingin mengetahuinya, silakan mengkaji dan mendalaminya dalam enam kitab hadis yang sahih dan kitab-kitab lainnya, terutama dalam pasal keimanan dalam Shahih Muslim. Dalam kitab tersebut terdapat banyak bab yang memberikan kepastian bahwa definisi “Islam” dan “Iman” sebagaimana dipahami oleh Ahlus-Sunnah tidak lain adalah seperti yang telah diuraikan di atas, sedangkan penjelasan yang akan diuraikan dalam dua pasal mendatang akan semakin memperjelasnya. Oleh karena itu, renungkanlah dengan baik.
Catatan Kaki
¹ Mungkin sebagian kaum Muslim membedakan antara “Islam” dan “Iman”, berdasarkan apa yang dapat dipahami dari ayat 14 Surah Al-Hujurat berikut ini:
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah (kepada mereka): ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: kami telah Islam.’”
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa “Islam” merupakan pernyataan masuk agama dan berserah diri kepada Nabi Muhammad saw., sedangkan “Iman” adalah keyakinan yang teguh di dalam hati sanubari kaum beriman yang diikrarkan dengan lisan. Dengan demikian, “Iman” lebih khusus daripada “Islam”. Adapun kami (kaum Syi‘ah) menambahkan satu hal lagi, yakni wilayah (pengakuan dua belas Imam sebagai pemimpin umat).
² Sudah tentu hadis ini dan hadis sebelumnya terikat dengan persyaratan puasa, zakat, dan haji.
³ Hadis ini juga terdapat dalam Shahih Muslim dengan sanad yang sama.
⁴ Muslim juga meriwayatkan hadis ini di beberapa tempat dalam kitab Shahih-nya. Hal ini merupakan dalil bahwa kewajiban mengeluarkan seperlima (khumus) dari hasil perolehan termasuk salah satu rukun Islam, seperti halnya shalat dan zakat. Dengan demikian, hadis tersebut menjadi penjelas bagi hadis-hadis yang tidak mencantumkan kewajiban khumus. Hal ini tidak mengherankan, karena Al-Qur’an dan As-Sunnah saling berkaitan.
Sumber: Isu Ikhtilaf Suni Syiah - Sayyid Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi
Komentar
Posting Komentar